TEMA 9 : PROSA ARAB ERA MODERN (NON SASTRA)

 

Rifa’ah Tahtawi

                                                       

                                                                Lahir : 15 oktober 1801

        Wafat : 23 mei 1873

 

 

            Rifa’ah tahtawi bernama lengkap Rifa’ah bin Badawi bin Ali bin Muhamma bin Ali bin Rafi’ Al-Tahtawi, kelahiran Tahta distrik suhat 15 Oktober 1801. Al tahtawi adalah seorang tokoh intelektual sekaligus penggerak awal pembentukan pendidikan berbasis modern dan penggerak awal penerjemahan bahasa asing Iya berhasil dalam melakukan gerakan modernisasi pendidikan Islam pertama di Mesir Melalui aktivitas dalam pemerintahan di Mesir setelah hijrah dari Perancis al-tahtawi lebih banyak beraktivitas membantu para penguasa untuk modernisasi Mesir seperti di bidang penerjemahan jurnalistik dan dikhususkan dalam bidang pendidikan Islam mempunyai pemikiran untuk merubah sistem pendidikan dari statis menjadi dinamis dan bersifat tidak rasis kepada kaum wanita kemudian Al tahtawi mendirikan sekolah-sekolah pendidikan penerjemahan sekolah sipil dan lembaga penerjemahan yang berbasis modern dan dinamis.

Ketika ia berumur 16 tahun, ia memperoleh kesempatan belajar di Al-Azhar Kairo. Setelah menyelesaikan studinya di Al-Azhar, Al-Tahtawi mengajar disana selama 2 tahun, kemudian di angkat menjadi imam tentara pada tahun 1824. Dua tahun kemudian ia diangkat menjadi imam mahasiswa-mahasiswa yang dikirim Muhammad Ali ke paris. Dalam masa tugasnya di Paris, ia memanfaatkan waktunya untuk belajar dan menimba pengalaman sebanyak-banyaknya dengan membaca buku-buku sejarah, teknik, ilmu bumi, dan politik karangan Montesquieu, Voltaire, Rousseau Racine. Ia memperoleh banyak kesan selama lima tahunberada di paris sehingga kesan tersebut di tuangkan dalam sebuah buku Talkhish Al-Ihriz fi Talkhish Bariz. Buku tersebut selain mengisahkan pengalamanannya selama di Paris, juga mengungkapkan seputar kehidupan dan kemajuan eropa yang di lihatnya di Paris.


 

Setelah kembali dari Paris pada tahun 1831, Al-Tahtawi mulai mengabdikan diri sebagai penerjemah sekaligus guru bahasa Perancis di sebuah sekolah kedokteran Lebanon, yakni Abi Za‟bal dan sempat mengepalai sebuah sekolah kesehatan. Dua tahun kemudian di tahun 1833 M, Al-Tahtawi memutuskan untuk pindah ke sekolah Altireli. Di sini Al-Tahtawi menerjemahkan buku-buku yang berkaitan dengan ilmu teknik dan kemiliteran Di tahun 1835, Muhammad Ali mendirikan Sekolah Penerjemah yang berada di bawah pimpinan Al-Tahtawi. Tujuan dari didirikannya sekolah ini untuk mencetak kader-kader ahli penerjemah yang professional yang nantinya akan memajukan negeri.

 

 

Al-Tahtawi meningkatkan Sekolah Penerjemahan tersebut dengan menambah mata pelajaran bahasa, diantaranya Turki, Persia, Italia, dan Inggris. Bukan hanya di bidang bahasa, tetapi di sana terdapat pelajaran tambahan seperti ilmu teknik, aljabar, sejarah dan geografi (ilmu bumi). Selain mengajar , AlTahtawi juga ikut mengkoreksi buku-buku yang telah diterjemahkan oleh murid-muridnya. Dengan bertambahnya beberapa mata pelajaran  tersebut sekolah penerjemahan ini lebih dikenal sebagai Sekolah Bahasa Asing

 

Rifaah tahtawi adalah pembawa pemikiran pembaharuan yang besar pengaruhnya di pertengahan pertama dari abad ke 19 di mesir.   Adapun Pemikiran-pemikiran Pembaharuan sebagai berikut Rifaah tahtawi adalah pembawa pemikiran pembaharuan yang besar pengaruhnya di pertengahan pertama dari abad ke 19 di mesir.  

  1. Jika umat Islam ingin maju harus belajar ilmu pengetahuan sebagaimana kemajuan yang terjadi Barat (Eropa). Untuk itu umat Islam harus berani belajar dari Barat.
  2. Negara yang baik adalah Negara yang pandai meningkatkan ekonomi rakyat, sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman Fir’aun.
  3. Kekuasaan Raja sangat absolut, sehingga perlu dibatasi oleh Undang-undang Syariat yang yang dipimpin oleh majlis syura (ulama). Oleh karena antara Raja dengan ulama harus bisa berunding untuk melaksanakan hukum syariat.
  4. Umat Islam harus menguasai bahasa asing jika ingin maju di samping bahasa Arab. Bahasa Arab adalah berfungsi untuk memahami al-Qur’an dan al-Hadits, bahasa asing berfungsi untuk menerjemahkan dan memahami ilmu dan peradaban Barat.
  5. Ulama Islam harus memahami ilmu-ilmu pengetahuan modern jika tidak ingin umat Islam ketinggalan.
  6. Umat Islam tidak boleh bersikap fatalis (pasrah dengan keadaan) tanpa berusaha sekuat tenaga untuk mencapai cita-cita.

 


Referensi : Khoiro Mukhibatul. 2019. Sejarah Perjuangan Rifaah Al-Tahtawi Dan Muhammad Abduh

Di Mesir Tahun 1831-1905 M. Skripsi . Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya

#AYO KULIAH DI UIN RADEN FATAH 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMA 13 : YUSUF IDRIS

Satra Mahjar

TEMA 14 : TAUFIQ HAKIM